Reblog.
Well, at least i reblogged it and is on the position of improving myself to get ontime as seen on the pic.
Hidup itu kalo dipikir-pikir ibarat nyetir mobil manual:
Lihat spion sesekali untuk melihat ke belakang dengan tujuan agar aman dan lebih berhati-hati. Sama seperti hidup, lihat ke belakang sesekali, bukan untuk dipikirkan kembali, direnungkan hingga mati, tapi untuk melihat kesalahan dan belajar daripadanya, untuk melihat kesuksesan agar termotivasi karnanya.
Pandangan kita fokuskan ke depan, gak usah jauh-jauh amat, radius mata memandang yang terlihat saja. Kalo kejauhan malah nabrak, gak fokus. Sama seperti hidup. Kadang gaya-gayaan ngeset jangka panjang, trus kejebak mikir gimana meraih tujuan jangka panjang itu sampai-sampai yang jangka pendek dan menengah kelupaan, akhirnya, gak dapet semuanya. Pelanlah tapi pasti. Lagipula, jika fokus jangka pendek terlaksana dengan rapi, efeknya juga jangka panjang akan tersiapkan dengan rapi pula. Nyetir pun gitu, tau-tau sampe aja, asal ‘setiti’.
Gak usah saling serobot jalur, sampe keluar track akhirnya mogok, kalo gak tersesat. Dalam hidup, kadang penginnya yang instant, pengen cepet sukses, salah-salah malah buntung. Atau gak, emang sih cepet sampai, tapi jalannya gak enak, ujungnya jadi kotor dan hancur ditengah jalan. Hargailah aturan agama dan toleransi berkehidupan, layaknya kita menghargai marka jalan, traffic light dan pengendara lain.
Kalo nyetir mobil manual, kita mulai dari gigi 1, oper 2, sampai 5. Itu ibarat akselerasi. Kalo hidup cuma gerak gitu-gitu aja, kerja cuma gitu-gitu aja, jelas saja sampai tujuannya lama. Boros bahan bakar pula, entah karena banyak ngeluh atau emang kepanasan sendiri (mesinnya, atau otaknya). Ibarat di mobil, dia cuma di gigi 1, gak masuk ke gigi 2.
Dan, menurut subjektivitas saya, puncak menyetir itu adalah saat sudah masuk gigi 5. Bukan berarti jadi tambah ngebut, ngoyo nancap gas maksimal (bisa-bisa malah mundur - keliru ke gigi R karna ngoyonya), tapi untuk menstabilkan kecepatan, menenangkan getaran, dan menyamankan posisi akhir agar bisa tahan lama menerjang jarak perjalanan.
Sama seperti halnya kehidupan. Saat muda, tancap gas bekerja keras meraih impian dan tujuan, hingga pada akhirnya akselerasi masuk pada usaha yang paling besar (gigi 4). Kemudian (Alhamdulillah) Sukses.. Masuklah ke fase penyelarasan hidup (gigi 5), menstabilkan kesuksesan, me-mantain irama keseimbangan hidup dan mendedikasikan sisa waktu pada tanggungjawab sebagai anak dari orang tua, istri/suami dan hamba Allah. Disaat itu, kita tetap bisa stabil, harmonis dan sukses di saat yang bersamaan, tanpa kita harus berhenti. Karna, di gigi 5 inilah, getaran akan terkurangi, mesin halus, kecepatan stabil dan bahan bakar pun lebih irit karna kestabilan dan konsistensi cara menyetirnya.
Kalo kita terlalu serius ingin segera mencapai tujuan, kadang kita jadi tak sadar dan tak sempat menikmati betapa indahnya pemandangan dan suasana di perjalanan.
Ya, hidup pun begitu..
You choose. You live it.
Live it well, find Love, Laugh a lot :)
Lama magabut (makan gaji buta alias gak ada kerjaan), lama gak diskusi, brainstorming, atau sparing akan berujung pada membekunya logika dan mental. Kebekuan itu sendiri seperti layaknya degenerasi otak. Trus apa efeknya? Kadang kita merasa jadi lebih penakut, bingungan, panikan, ceroboh, atau jadi lebih sensitif dan emosional.
Diskusi meski singkat dan meski hanya bersifat entertaining seperti mendiskusikan sebuah film atau artikel berita seolah akan memutar kembali dinamo otak kita untuk terus bergerak. Semakin berat dan berbobot tema diskusi, motor dinamo akan makin kenceng muternya. Dan saat itulah kita jadi lebih produktif dalam hal yang kita kerjakan.
Maka tak jarang para pekerja kantoran ter-maintain ilmunya karena mereka sering berdiskusi. Dan sebaliknya, para entrepreneur kalo gak dibarengi dengan terus berdiskusi mengenai hal umum, ilmunya akan mentok, meski pengalaman dan instingnya bertambah. Karna dinamo di otaknya muternya cuma segitu mulu.
Dan bisa ditebak pula, para pengangguran yang gak terus mempercakap diri, dan hanya mengandalkan lamar dan lamar terus, dinamo otaknya pun akan berhenti berputar.. Dan kalo dibiarin bakal usang. Mampet ide-idenya.
Maka, dari inipun saya ingin terus berdiskusi, cari teman, cari musuh berdebat dan sparing ideas. Dari satu tema diskusi, loncat ke tema lain, yang bahkan saya belum tahu. Dan semoga dinamo di otak saya makin keceng berputar, karnanya logika akan berjalan, hilanglah ketakutan dan kekhawatiran, mengalirlah ide dan keberanian.
Get a life.
Cogito ergo sum.
22 September 2012
Thanks to @abisani, for coming, mampir ngobrol pasca resepsi, doa, kadonya, dan foto ini :)
Thanks God i married her, eventually :) Your plan, amazed me.
Kata ustad, rejeki itu dijemput, bukan ditunggu. Rejeki bisa didekatkan, dengan ikhtiar dan sedekah, tapi tetap kita harus menjemput. Karna kita tak bisa diam begitu saja. Dan rejeki tak pernah salah orang.
Kadang kita tak bisa membedakan antara kata hati (conscience) dan keinginan pribadi (desire). Yang patut dipertimbangkan saat mengambil sebuah keputusan, yang kita tak tahu apa kata hati kita saat itu, adalah, kebutuhan orang-orang yang kita sayangi, dan tanggungjawab kita sebagai anak dari orangtua, suami/istri, dan hamba Allah.